The Snail Hunter. Diilhami dari sebuah kisah nyata yang terjadi di rumah saya sendiri (yeah, may be you'll think that it's very redundant. Ok, no problem. It just for having fun).
Entah kenapa beberapa bulan terakhir, setiap kali berkunjung di halaman tengah, selalu saja ada yang namanya si anak siput. Dalam sehari mungkin bisa ditemui 5-10an babies snail. Apakah karena musim penghujan? Ya, bisa jadi. Tapi sepertinya intensitas hujan di musim yang berkebalikan (musim hujan jadi kemarau, musim kemarau jadi musim hujan) ini tidak terlalu banyak. Sempat terpikir untuk menyelidiki sebuah hipotesis yang sering terlintas di otak, "Secepat apa si siput ber-regenerasi?" Hemm.., tapi...(banyak tapinya)
Baiklah. Tak apa jika di tanahku ini banyak sekali siput- siput kecil. Mungkin ini salah satu indikator bahwa kwalitas tanah di pekarangan belum terlalu buruk. Sebisa mungkin saya tak ingin menyakiti siput- siput kecil itu, meskipun terkadang ada yang menyarankan untuk menumpas mereka dengan 'anarkis'. Saya sadar betul, mereka tercipta bukan semata hanya sebagai perusak tanaman. Pasti ada hikmah tersendiri dibalik penciptaan siput- siput kecil itu,
Jadi, poinnya adalah... menjaga kesabaran. Karena sejengkel- jengkelnya kita pada kehadiran mahluk kecil bernama 'siput' itu, jangan sampai kita memberantas mereka dengan cara yang tidak berperikemanusiaan. Toh masih ada cara lain yang lebih baik untuk membersihkan mereka dari pekarangan tanpa menyakiti dan merampas hak hidup dan ber-regenerasi mereka.
|
0 komentar:
Posting Komentar