Merbabu Hampir tak Perawan
Untuk mengisi waktu kosong di sela- sela masa penantian menunggu pengumuman kelulusan dan ujian tulis SNMPTN, sebuah pasukan kecil berencana untuk melakukan sebuah ekspedisi menjelajah alam gunung Merbabu. Pasukan kecil itu terdiri dari Asad, Fian, Anita, Nilam, Novian, Hamid, Satrio, Angger, Aku "Vika", dan Mas Andhi. Di sini, Mas andhi berperan sebagai panglima ekspedisi, sedangkan Asad berperan sebagai tangan kanan sang panglima. Pada hari Jum'at siang (4 Mei 2012) tepatnya setelah selesai shalat Jum'at, pasukan kami segera meluncur menuju medan ekspedisi. Perjalanan menuju wilayah magelang tidaklah memakan waktu lama. Kami tiba di desa Kaponan kurang lebih pukul 15.30. Berhubung sebagian rombongan belum menunaikan sholat ashar maka, kami memutuskan untuk berhenti sejenak di masjid kampung terdekat. Suasana di masjid tersebut sangat damai dan menenangkan. Kicauan burung terdengar sangat jelas dari dalam masji. Hawa dingin menyentuh kulit kami dengan lembut sehingga kami dapat menjalankan shalat ashar dengan khusyuk. Seusai kami menunaikan shalat, perjalanan pun berlanjut. Di sepanjang perjalanan banyak sekali kami jumpai deretan pohon pinus yang berdiri kokoh, seakan mereka menyambut kedatangan kami di istana mereka. Udara yang dingin, beratnya beban bawaan, dan medan yang menanjak tak menyurutkan minat kami untuk tetap menjelajah alam merbabu. Namun, tak terasa senja telah beranjak datang. Kumandang adzan telah mengalun merdu dari setiap penjuru desa. Kami pun segera mempercepat langkah kami untuk segera menemukan masji. Alhasil, hanya beberapa menit perjalanan, kami pun telah sampai di sebuah masjid sederhana yang bisa kami gunakan untuk sholat maghrib. Setelah selesai menunaikan shalat, pasukan kecil kami segera melanjutkan perjalanan untuk menuju bascamp. Letak bascamp yang akan kami tuju tidaklah terlalu jauh dari masjid. Sekitar pukul 19.00 kami tiba di bascamp dan disambut hangat oleh seorang wanita tua yang tak lain adalh pemilik bascamp (maaf, saya lupa namanya..( ^_*)). Di sana, kami beristirahat sejenak sambil menyiapkan makanan sebagai santap malam istimewa kami.
***
Jam menunjukkan pukul 22.00. Kami pun bergegas untuk segera meninggalkan bascamp dan melakuakan pendakian malam. Dengan bantuan headlamp dan senter seadanya, kaki kecil kami terus melangkah menyusuri jalan setapak menuju puncak. Gelapnya malam itu tak mampu menyiutkan nyali kami karena purnama senantiasa menemani kami menyusuri setiap tanjakan yang menghadang. Pada tengah malam, tenaga kami sudah mulai down dan kelelahan. Agar perjalanan tetap dapat berlanjut dengan baik maka, kami memutuskan untuk membangun tenda untuk beristirahat dan mengumpulkan tenaga. Meskipun dengan kondisi yang serba terbatas, kami tetap bersyukur karena setidaknya kami masih bisa meregangkan otot- otot kaki yang mulai memberontak.
Saat fajar tiba, kami segera bergegas untuk menuanikan shalat subuh dan melanjutkan dengan memasak sarapa bersama. Mi instan, kentang rebus, dan kopi hangat menjadi menu andalan kami saat itu. Setidaknya makanan- makanan itu mampu mengganjal perut kami yang mulai ber'kukuruyuk'. Setelah tenaga kami mulai pulih, akhirnya kami segera berkemas untuk melanjutkan perjalanan.
***
Di sepanjang perjalanan kami disuguhkan dengan rimbunnya pepohonan hutan. Semak- semak melambai- lambai seolah mengatakan "selamat berjuang menaklukkan gunung merbabu, kawan". Namun sayang, tidak jarang kami menemukan sampah- sampah berserakan di sepanjang jalan. Mulai dari sampah bungkus permen sampai sampah botol air mineral. Andaikan alam bisa protes dan meronta, pasti mereka akan berteriak "Jangan rusak diriku. Jangan kotori keperawananku dengan kecerobohanmu." Jika alam mempunyai daya, mungkin mereka akan menghukum para pendaki yang ceroboh dan tidak peduli dengan alam dengan cara yang sekejam- kejamnya. namun, hanya kebisuanlah yang bisa mereka lakukan. Betapa memperihatinkan jika melihat kondisi alam di jaman sekarang. Rupanya sampah- sampah tidak hanya terdapat di lingkungan kota saja, tetapi sampah juga telah sampai di pelosok hutan, dan bahkan di puncak gunung tertinggi. Kawan, jika kau membaca tulisan ini, kumohon jagalah hutan kita. Merekalah sumber kehidupan bagi kita. Tanpa mereka kita hanyalah mahluk dengan tulang berlapis kulit. Sekali lagi kumohon, jangan rusak keperawanan hutan kita.
0 komentar:
Posting Komentar