Kamis, 09 Mei 2013

Remahan Biskuit (Short Story )


Kisah cinta. I don’t care with it. Tak sedikitpun aku tertarik untuk mendengar kisah- kisah seperti itu, apalagi masuk di dalamnya. Kalaupun aku menyukai seseorng, itupun tak akan seheboh seperti kisah cinta teman- temanku. Cukup aku diam dan bercerita pada sahabatku. Ya, hanya sahabatku. Bahkan ibuku pun tak tau kalau putrinya tengah menyukai seseorang. Aku terlalu malu jika harus mengakui bahwa aku tengah terserang virus merah jambu.
Itu dulu. Saat aku masih bersetatus sebagai anak SMA. Tapi ternyata, ada hal lain yang benar- benar mengalihkan duniaku. Di awal masa kuliah (status maba) aku mengenal seorang ‘teman’ yang begitu care dan welcome kepadaku. Pertemanan kami terjalin baik dan bisa dibilang cukup dekat. Dan komunikasi yang terjalin cukup menyenangkan, asyik, dan nyambung. Kami saling bercerita tentang cita- cita kami, keluarga kami, kesukaan kami, bahkan kadang kami sering ngobrol tentang dunia entrepreanure, politik, IT, dan masih banyak lagi. Hingga pada suatu ketika aku merasa bahwa ini tidak seperti pertemanan biasa (oh.. mungkin ini hanya perasaanku).
Seiring berjalannya waktu, komunikasi diantara kami semakin berjarak. Entah apa penyebabnya. Hingga pada suatu ketika, saat kami benar- benar tak terkoneksi, aku merasakan apa itu yang disebut kehilangan seorang teman dekat. Tak ada lagi cerita, sapaan “jelek” (terkadang ia memanggilku itu), wejangan, dan diskusi. Itulah yang  paling berkesan sepanjang pertemanan kami. Rasanya tak mungkin aku harus terjebak dalam kesedihan yang berlarut- larut. Kehilangan seorang teman bukan berarti kehilangan semangat bukan? Dan akhirnya aku mencoba untuk menyibukkan diri dengan diriku, kuliahku, dan teman- temanku. Tidak bisa dipungkiri memang, teringat & rindu terkadang sering membayangi. Berharap untuk bisa merobohkan jarak yang membatasi. Namun, aku pun tak ingin berlebihan. Berlebihan hanya akan membuat hati semakin rapuh. Dan aku tak menyukai hal itu. Semakin aku memanjakan rasa rinduku, maka semakin besar pula angan- anganku tentang dia. Sungguh, aku tak ingin selemah itu. 
Kini, aku tengah sibuk dengan dunia baruku sebagai seorang aktivis dakwah di daerahku. Di sana aku bertemu dengan teman- teman baru yang salih_salihah dan menginspirasi. Dan ku pikir, ini adalah moment yang tepat bagiku untuk memulai kehidupan baru. Melupakan masa lalu dengannya, memperdalam ilmu agama & keorganisasian, dan tentu saja lebih fokus pada passionku. Karena, Alhamdulillah aku mendapatkan jabatan yang sesuai dengan minatku, yaitu menulis. Dan di jabatan itu aku dan teman- teman divisi akan lebih fokus dengan dakwah media. Hal yang harus ku pegang dengan sungguh- sungguh adalah, ketika aku bisa berkata dan menyeru dalam hal kebaikan pada orang lain, maka aku pun harus bisa menerapkannya pada diriku sendiri. Dan salah satunya, ketika aku mengajak teman- temanku untuk bangkit dari masalah bertema ‘cinta’, maka aku pun harus melakukannya pula. Karena inilah caraku agar aku dapat terus bangkit & bersemangat menjalani masa emas ini tanpa terpaut oleh satu nama. Jikalau butiran rasa tentangnya masih ada, maka kuserahkan semuanya pada Yang Maha Cinta untuk menjaga kemuliaannya.
Inilah secuil kisah yang ingin kuceritakan malam ini. Semoga bisa diambil kebaikan yg ada di dalamnya, dan dibuang keburukan- keburukannya. Dan setidaknya, cerita ini bisa menjadi percik semangat bagiku untuk terus maju. (^_^)

0 komentar:

Posting Komentar

 
Kotak Sejuta Harapan Blogger Template by Ipietoon Blogger Template