Kisah cinta. I don’t care with it. Tak sedikitpun
aku tertarik untuk mendengar kisah- kisah seperti itu, apalagi masuk di
dalamnya. Kalaupun aku menyukai seseorng, itupun tak akan seheboh seperti kisah
cinta teman- temanku. Cukup aku diam dan bercerita pada sahabatku. Ya, hanya
sahabatku. Bahkan ibuku pun tak tau kalau putrinya tengah menyukai seseorang.
Aku terlalu malu jika harus mengakui bahwa aku tengah terserang virus merah
jambu.
Itu dulu. Saat
aku masih bersetatus sebagai anak SMA. Tapi ternyata, ada hal lain yang benar-
benar mengalihkan duniaku. Di awal masa kuliah (status maba) aku mengenal
seorang ‘teman’ yang begitu care dan welcome kepadaku. Pertemanan kami
terjalin baik dan bisa dibilang cukup dekat. Dan komunikasi yang terjalin cukup
menyenangkan, asyik, dan nyambung. Kami saling bercerita tentang cita- cita
kami, keluarga kami, kesukaan kami, bahkan kadang kami sering ngobrol tentang
dunia entrepreanure, politik, IT, dan masih banyak lagi. Hingga pada suatu
ketika aku merasa bahwa ini tidak seperti pertemanan biasa (oh.. mungkin ini
hanya perasaanku).
Seiring
berjalannya waktu, komunikasi diantara kami semakin berjarak. Entah apa
penyebabnya. Hingga pada suatu ketika, saat kami benar- benar tak terkoneksi,
aku merasakan apa itu yang disebut kehilangan seorang teman dekat. Tak ada lagi
cerita, sapaan “jelek” (terkadang ia memanggilku itu), wejangan, dan diskusi.
Itulah yang paling berkesan sepanjang
pertemanan kami. Rasanya tak mungkin aku harus terjebak dalam kesedihan yang
berlarut- larut. Kehilangan seorang teman bukan berarti kehilangan semangat
bukan? Dan akhirnya aku mencoba untuk menyibukkan diri dengan diriku, kuliahku,
dan teman- temanku. Tidak bisa dipungkiri memang, teringat & rindu terkadang
sering membayangi. Berharap untuk bisa merobohkan jarak yang membatasi. Namun,
aku pun tak ingin berlebihan. Berlebihan hanya akan membuat hati semakin rapuh.
Dan aku tak menyukai hal itu. Semakin aku memanjakan rasa rinduku, maka semakin
besar pula angan- anganku tentang dia. Sungguh, aku tak ingin selemah itu.
Kini, aku tengah
sibuk dengan dunia baruku sebagai seorang aktivis dakwah di daerahku. Di sana
aku bertemu dengan teman- teman baru yang salih_salihah dan menginspirasi. Dan
ku pikir, ini adalah moment yang tepat bagiku untuk memulai kehidupan baru.
Melupakan masa lalu dengannya, memperdalam ilmu agama & keorganisasian, dan
tentu saja lebih fokus pada passionku. Karena, Alhamdulillah aku mendapatkan
jabatan yang sesuai dengan minatku, yaitu menulis. Dan di jabatan itu aku dan
teman- teman divisi akan lebih fokus dengan dakwah media. Hal yang harus ku
pegang dengan sungguh- sungguh adalah, ketika aku bisa berkata dan menyeru
dalam hal kebaikan pada orang lain, maka aku pun harus bisa menerapkannya pada
diriku sendiri. Dan salah satunya, ketika aku mengajak teman- temanku untuk
bangkit dari masalah bertema ‘cinta’, maka aku pun harus melakukannya pula.
Karena inilah caraku agar aku dapat terus bangkit & bersemangat menjalani
masa emas ini tanpa terpaut oleh satu nama. Jikalau butiran rasa tentangnya
masih ada, maka kuserahkan semuanya pada Yang Maha Cinta untuk menjaga
kemuliaannya.
Inilah secuil
kisah yang ingin kuceritakan malam ini. Semoga bisa diambil kebaikan yg ada di
dalamnya, dan dibuang keburukan- keburukannya. Dan setidaknya, cerita ini bisa
menjadi percik semangat bagiku untuk terus maju. (^_^)
0 komentar:
Posting Komentar